Posts

Showing posts from May, 2021

A: Bintang

Ia berserakan di hamparan langit lepas Indah berkilauan memanjakan langit malam Satu, dua, tiga ah hanya itu yang lebih bersinar yang lainnya lebih kecil walau masih terlihat terang Pasti ia tak pernah merasa sendiri Begitu banyak yang bersanding dengannya  karena ia memiliki bintang lain bersamanya Berkilauan melingkari bulan yang termenung sendirian Terkadang ia tak nampak saat malam Apakah ia pergi karena sedang menangis? Tapi ia memiliki segalanya tak ada yang kurang Untuk apa tetap menangis dan menghilang? Ternyata ia memang sedang menangis Ia sengaja tak menampakkan cahayanya  Tak ingin semua orang melihat raut sedihnya Ia masih melingkari bulan seperti biasanya Hanya saja redup dan memilih hilang Ia juga hadir pada pagi dan siang hari Walaupun cahayanya redup karena pancaran mentari Ia telah berusaha begitu keras namun tak punya waktu untuk bersinar sendiri walau begitu ia tetap hadir dengan seluruh cahayanya Aku ingin mengatakannya sekali ini saja  Bintang kumohon...

N: Bulan

Siapa yang mampu menyaingi sinarnya? Ia ingin semua orang melihat pancaran sinarnya Tak ingin satu orang pun mengabaikan keindahannya Walaupun jelas ia tak selalu hadir kala malam  Siapa yang mampu menyaingi kekuatannya? Ia menggantung bebas di sana sepanjang malam dengan pantulan cahaya yang menerangi sudut kota Semua orang menengadah untuk mengaguminya  Pantaskah ia harus merasa terbuang? Saat semua perhatian tertuju padanya mengapa ia merasa seluruh dunia melupakannya? Matahari memang selalu ada tanpa terkecuali Namun, sinarnya tak bisa dilihat oleh siapapun Ia hanya hadir untuk memberi siang pada dunia Lalu kembali tenggelam saat senja tiba  Hanya ia yang mengisi malam dengan sempurna Bersama ribuan bintang dalam dekapannya Saat waktunya kau tak mampu bersinar  Ingatlah bahwa engkau akan tetap menjadi sang ratu Aku akan mengatakan ini padamu, Bulan Tak bisakah kau merasa dirimu adalah segalanya? Tentu, kau pantas untuk berbangga hati karena kau memang cukup sempu...

Bunga yang Lain

Lagi, aku menggeleng kuat Mencoba menepis memori yang hadir kembali Menghantui bahkan bersemayam dalam hati Aku ingin melepas ikatan yang tak pernah terikat Pergi walau tahu tak akan ada yang peduli menahan Namun, memori itu tak pernah hilang Ia mencabik dengan keras tanpa suara Aku tak luput dari orang yang menyakitimu Berteriak hebat kala kau mengabaikanku Tak sadar akulah yang membuatmu terlalu menunggu Sampai akhirnya aku berlari pergi Meninggalkanmu yang hanya terdiam bisu Tak beranjak untuk membuat kepergianku urung Bodoh, aku tergerak untuk melihatmu di belakang Kau hanya diam tak menatapku dengan mata berbinar Beralih, kau menatap bunga lain di sana Seharusnya aku tetap melangkahkan kaki Aku justru diam terpaku tak mengalihkan pandangan Padamu yang kini bahagia hinggap pada bunga itu Bunga yang pantas kau pandangi dengan mata indahmu Senyuman itu tak akan menjadi milikku lagi Bahkan memang bukan milikku dari awal Seharusnya aku melanjutkan langkah ini tapi mengapa kini aku hany...

Rumah: Tuan

Apa yang kau harapkan dari pasir putih itu? Ia akan habis tersapu oleh derasnya ombak Tertarik pasrah mengikuti arus yang ada Kecil dan lemah walau beribu pasir terhampar Kalah telak dengan dahysatnya ombak  Apa yang kau harapkan dariku? Kakinya tergores karena terus berlari Tak peduli dan tetap enggan berhenti Redup walau beribu lampion ia terbangkan Tak ada artinya dengan pancaran bulan gemintang Ia hanya Si Kelinci yang kehilangan Tuannya Belum sempat mendapati Tuannya kembali Ia berlenggang pergi sendiri Meninggalkan Sang Tuan yang masih berarti Ia tak sanggup tuk berlari lagi Kakinya mati rasa mencoba menghafal tujuannya Ingin pulang walau bukan Sang Tuan sebagai rumahnya Nihil, ia tak menemukan apapun Rumah barunya atau pun Tuannya Bekasi, 30 April 2021